Tags

, , , , ,

Hello!!!

Ini adalah postingan kelima, dan kali ini saya akan lebih bercerita mengenai kredibilitas seseorang di twitter. Saya pernah belajar sebelumnya mengenai kredibilitas seseorang di mata kuliah media dan retorika, walaupun kredibilitas di sini menyangkut kredibilitas seorang pembicara, namun bisa juga dikaitkan dengan kredibilitas perorangan. Dalam kuliah itu disebutkan bahwa kredibilitas itu merupakan sikap, kredibilitas bukan terletak pada orangnya, melainkan di pikiran audience. Oleh karenanya tidak jarang ditemukan bahwa seseorang memiliki kredibilitas tinggi di mata khalayak satu dan rendah di mata khalayak lainnya.
Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi kredibilitas seseorang:
– Kompetensi: Bagaimana khalayak memandang kecerdasan atau intelegensi seseorang dan pengetahuannya mengenai subjek yang dibicarakan.
– Karakter: Bagaimana khalayak memandang ketulusan dan trustworthiness seseorang serta perhatiannya terhadap kesejahteraan khalayak.

Sekarang, apa hubungannya dengan twitter??Saya punya akun twitter walaupun jarang ngetwit tapi sering memantau isi timeline, dan seringkali jengkel dengan mereka yang percaya aja dengan ramalan bintang dengan me-retweet tweet-tweet dari akun-akun ramalan bintang yang tidak jelas siapa pemiliknya, terlepas dari agama. Selain itu, saya juga tidak suka dengan mereka yang meretweet akun-akun yang mentweet fakta, tapi seringkali tidak mencantumkan sumber. Dari sini terlihat betapa khalayak satu dengan khalayak lainnya berbeda pandangan mengenai kredibilitas seseorang atau suatu akun.
Mengapa bisa terjadi yang demikian? Menurut saya, di jaman sekarang orang berlomba-lomba agar dirinya eksis, adanya istilah prosumer, di mana pengguna tidak hanya menjadi konsumen pasif, melainkan juga aktif memproduksi konten agar tetap eksis. Seperti yang di katakan Henry Jenkins, “..If it doesn’t spread, it’s dead..” Pengguna twitter dengan kriteria yang saya sebutkan di atas, memproduksi konten twitter mereka dengan meretweet tweet-tweet dari akun ramalan bintang dan penyedia fakta. Sayangnya, seringkali mereka tidak memperhatikan kredibilitas dari akun tersebut. Biasanya tidak ditemukan informasi mengenai siapa orang di balik akun tersebut dan setiap tweet tidak mencantumkan sumber. Mereka meretweet begitu saja tanpa memverifikasi terlebih dahulu kebenarannya.
Dari cerita di atas, digital literacy memang perlu agar pengguna twitter tidak menerima informasi begitu saja, tidak menerima informasi mentah-mentah dari akun-akun anonim..

Advertisements