Tags

, ,

“If it doesn’t spread, it’s dead..”

Quote di atas saya dapatkan dari kelas Konvergensi Media. Di dunia yang konvergen ini, kayanya apa-apa harus disebar, agar tidak mengalami kematian. Contohnya blog ini, sebagai medium atau sarana saya merefleksikan apa yang saya petik dari kelas konvergensi media, kalau tidak disebar, maka akan mati. Jika tidak disebar, maka tidak ada visitors, dan lambat laun akan mati ditinggalkan penulisnya. contoh lain yang disebutkan oleh dosen saya adalah jejaring sosial Koprol yang telah resmi ditutup.
Di zaman yang serba Hyper Access, di mana pengguna media mampu mengakses informasi dari berbagai situs/platform, dari satu situs ke situs lain yang dihubungkan dengan sebuah link, untuk memperkenalkan sesuatu yang baru kepada khalayak sebenarnya tidaKlah sulit. Tidak hanya situs/akun/platform baru yang bisa disebar melalui bantuan internet, melainkan juga diri kita sendiri. Tidak heran sekarang sebagian orang dijuluki sebagai artis Youtube dan menyebarkan akun Youtube yang berisi kenarsisan mereka di berbagai akun jejaring sosial seperti twitter dan facebook sehingga followers dan friends bisa mengakses dan teralihkan ke akun Youtube si artis Youtube.
Contoh yang paling hangat yang akhir-akhir ini sering dibicarakan adalah kasus wawancara Vicky Prasetyo. Pada saat saya menulis postingan ini, video wawancara tersebut masih berada di posisi teratas di halaman utama Youtube. Mungkin pada awalnya orang tidak mengenal siapa Vicky, namun karena beritanya heboh, yang tadinya hanya sebuah video wawancara yang disiarkan di televisi, kini tersebar di berbagai situs, dan kini ia dikenal oleh banyak orang.
Keragaman platform ini sepertinya dimanfaatkan benar oleh Talent Agent, ditambah lagi kini kita berada di mana khalayak terlibat dengan media, khalayak tidak lagi sebagai sekadar yang pasif, namun mereka aktif mencari informasi dan memproduksi konten. Karena ketertarikan saya dengan Korean Pop, kali ini saya kembali mencoba menggunakan contoh yang tidak jauh-jauh dari Korea yaitu salah satu talent agent ternama di Korea, YG Entertainment.

YG Family's Official Facebook

YG Family’s Official Facebook


YG Entertainment beserta artis-artisnya kini memanfaatkan beberapa situs maupun jejaring sosial untuk menyebarkan berbagai informasi, mulai dari konser, video klip atau album yang baru rilis, aktivitas para artisnya, dan lain-lain. Keberadaan situs-situs tersebut memungkinkan khalayak untuk ikut berpartisipasi, baik dengan memberikan komentar maupun menyebarkan kembali informasi tersebut ke platform mereka seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelumnya mengenai prosumer exchange.
Menurut saya, strategi ini memang sudah seharusnya dijalankan di era kemajuan media baru seperti sekarang. Bisa dibayangkan apabila YG Entertainment hanya memanfaatkan media konvensional seperti televisi maupun radio yang hanya dapat dijangkau di Korea, atau pay tv yang hanya dapat diakses oleh pelanggan. Orang lain di penjuru negara lainnya akan mengalami kesulitan mendapatkan informasi mengenai aktivitas mereka. Kalaupun seandainya YG Entertainment hanya memanfaatkan media konvensional tersebut, maka kemungkinan kita yang berada di Indonesia masih bisa mendapatkan informasi mengenai mereka dari warga Korea yang aktif terlibat dengan media atau menjadi prosumer, yang mengolah informasi tersebut di akun jejaring sosial atau Youtube mereka misalnya, karena seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa khalayak kini cenderung aktif. Karena khalayak kini cenderung menjadi prosumer, mereka tidak hanya mengonsumsi melainkan juga memproduksi konten, informasi yang diolah apalagi jika informasi tersebut menarik, maka akan mudah disebarkan melalui prosumer-prosumer lainnya.

Advertisements