Youtube Knows Me So Well..

Tags

, ,

Welcome to convergence era, where all of us has been spied since we are connected to internet and social media.. Our data have been recorded..

You know, few days ago I was reminiscing my childhood by watching WWE Smack Down on Youtube, well I know it sounds eery, isn’t it? But it didn’t give any effect on me, I keep being good girl hehee.. I’m still remember, my dad always waking me up every Friday midnight to accompany him watching Smack Down, yeah my dad was kind of illiterate one, but at that time, he explained to me that every fight scene dad and I watched was just fake one.. He said to me that the wrestlers were friends in real life, that’s why the fight scene in Smack Down was not real.. And I believe that haha, that’s why I keep being a nice girl..

I’m so grateful Youtube has so many Smack Down Videos, even the old ones which daddy and I used to watch.. I watched them one by one, even Youtube recommended some good videos to me, Youtube knows me so well, but how come? How come it know me watching Smack Down videos?

What is annoying me a lot is my Youtube page keeps on showing Smack Down Videos, whenever I access Youtube with my Laptop, Smack Down videos appear. Now I realise that what on your Youtube main page can describe who you are, what kind of person you are, what you like, etc..

Yeah, in the end, Youtube knows me so well.. Youtube knows all videos I’ve watched, all of my activity has been spied, that’s why Youtube can recommend similar videos that I might like.. grrr

Advertisements

Wikipedia as Citizen Journalism

Tags

, , ,

Hello everyone!!

Last meeting, we had a guest, mba Siska Doviana as our one day lecturer in media convergence class. She is Wikimedia Indonesia Chair of Board of Executive right now. She told us about Wikipedia as collective intelligence and citizen journalism.

One of my Lecturers once said that, “All information you get on wikipedia, just take it as something that enrich your knowledge, but when it comes to papers, don’t take it as reference..”

That’s right, Wikipedia somehow gives me information about what I want to know, like famous people profiles, big incidents, etc. So, when you have something new to share, that can enrich people’s knowledge, you can share it through Wikipedia.. Since wikipedia is very famous site, our article is easy to be found by users in Google.. For example, When we write about Typhoon Haiyan which took place in Philippines on Wikipedia, then if someday people search information about it on Google, then our article is (probably) placed at top 5.. As citizen journalist, we must be proud, and on the other hand, you can provide information to another. Since all people can post their article on Wikipedia, that’s why we can’t mention wikipedia as our reference in making paper. wikipedia article’s credibility determined by how many references used. Mba siska said, when we want to use one wikipedia article as our paper reference, don’t take that article, but the references used in that article..

Remix..

Tags

, , ,

Hello Everyone!!

it’s kinda late, so I won’t write something long, but simple and short.. Although it’s gonna be less than 100 words, but it still contains something new in my life, new knowledge I’ve got in last media convergence class..It’s all about remix.. Do u know that? remix 알아요?

we know that people now are copying something and re-create something from what they have copied, they are not just copying it, but they put their new ideas on something they copy.. There’s something they want to show us, it has a value for them and maybe for the one who consumes it..Remix also distorts text or meaning.. I’m gonna give an example, This was a very popular video around 2009, I was senior high school student at that time, that video was scattered, almost all of student got that video on their mobile phone haha, and so did I..Let’s check this video out!!

They copy something? yes, they copied Twilight movie, but they put something new, something that made it different from the original one.. They changed it into Bahasa Banjar and the story also modified.. the story really suits Banjarnese’s sense of humor.. Maybe you don’t understand, but for me, it’s something that can make you chortle.. When I got this video, I had not watched Original Version of Twilight movie yet.. So, I thought, Twilight really told about a girl who had incurable disease haha, she farted everywhere, I thought it’s real..

And I want to upload photos of mine, it still related to remix.. tadaa~
20131030_110938

We had costume play or cosplay on last Wednesday, and I had a role as a witch.. you may think witch is ugly and bad, but I subverted that meaning, I wasn’t bad or ugly, but, let’s take a look, tadaaa!!!

20131030_110854

I am the one and only good witch!! Friendly witch, become friend to everyone even the princess!! They are not afraid of me, we are friend!! haha
20131030_111227
even the Sailor Moon dare to hold witch’s precious hat..hahaaI think it’s enough, It’s time for me to say, good night!!

One Story Creates Another Story in Another Platform

Tags

, ,

Hello everyone!!

Pada beberapa hari yang lalu di kelas konvergensi media, saya mendapatkan pengetahuan baru mengenai Transmedia Storytelling.. Bila kita bertanya pada Google, terdapat banyak penjelasan mengenai Transmedia Storytelling tersebut, salah satunya menyebutkan bahwa Transmedia Storytelling adalah one story through different media platform. Ada juga penjelasan lain mengenai Transmedia Storytelling:

In order to achieve the engagement, a transmedia production will develop stories across multiple forms of media in order to deliver unique pieces of content in each channel.

Multiple Stories through Multiple Platforms.

Satu konten akan dinikmati oleh banyak khalayak dan konten tersebut akan diceritakan dengan cara yang unik dan bermacam-macam oleh khalayak dengan menggunakan berbagai platform. Tidak heran terkadang satu cerita dari satu platform dengan platform lainnya berbeda walaupun sama-sama berasal dari konten yang sama. Contohnya seperti sebuah film yang ceritanya diangkat dari sebuah buku, terkadang penonton dikecewakan dengan cerita yang tidak sesuai dengan di buku, atau ada adegan yang ada di buku namun tidak diangkat dalam film, begitu pula sebaliknya.
Terkait dengan penjelasan di atas, istilah glokalisasi juga dapat dikaitkan dengan transmedia storytelling. Ketika konten luar menjadi konten lokal biasanya terdapat unpredictable meaning dari industri. Coba lihat video berikut:

nah video di atas merupakan cuplikan film hollywood yang berjudul 300. Film tersebut diceritakan kembali dengan cara yang unik dan disesuaikan dengan kelokalan. Bukan dalam bentuk film lagi, melainkan video yang diunggah ke Youtube. Salah satu video fenomenal yang dibuat oleh Indonesian yang menceritakan kembali film 300 dan mengunggahknya ke Youtube, check this out:

Sebelumnya mungkin tidak ada yang mengira bahwa akan ada yang membuat video seperti ini, konten global masuk menjadi konten lokal ditambah dengan kreativitas khalayak yang semakin meningkat dengan adanya kemajuan teknologi ini.

Twitter Literate..

Tags

, , , , ,

Hello!!!

Ini adalah postingan kelima, dan kali ini saya akan lebih bercerita mengenai kredibilitas seseorang di twitter. Saya pernah belajar sebelumnya mengenai kredibilitas seseorang di mata kuliah media dan retorika, walaupun kredibilitas di sini menyangkut kredibilitas seorang pembicara, namun bisa juga dikaitkan dengan kredibilitas perorangan. Dalam kuliah itu disebutkan bahwa kredibilitas itu merupakan sikap, kredibilitas bukan terletak pada orangnya, melainkan di pikiran audience. Oleh karenanya tidak jarang ditemukan bahwa seseorang memiliki kredibilitas tinggi di mata khalayak satu dan rendah di mata khalayak lainnya.
Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi kredibilitas seseorang:
– Kompetensi: Bagaimana khalayak memandang kecerdasan atau intelegensi seseorang dan pengetahuannya mengenai subjek yang dibicarakan.
– Karakter: Bagaimana khalayak memandang ketulusan dan trustworthiness seseorang serta perhatiannya terhadap kesejahteraan khalayak.

Sekarang, apa hubungannya dengan twitter??Saya punya akun twitter walaupun jarang ngetwit tapi sering memantau isi timeline, dan seringkali jengkel dengan mereka yang percaya aja dengan ramalan bintang dengan me-retweet tweet-tweet dari akun-akun ramalan bintang yang tidak jelas siapa pemiliknya, terlepas dari agama. Selain itu, saya juga tidak suka dengan mereka yang meretweet akun-akun yang mentweet fakta, tapi seringkali tidak mencantumkan sumber. Dari sini terlihat betapa khalayak satu dengan khalayak lainnya berbeda pandangan mengenai kredibilitas seseorang atau suatu akun.
Mengapa bisa terjadi yang demikian? Menurut saya, di jaman sekarang orang berlomba-lomba agar dirinya eksis, adanya istilah prosumer, di mana pengguna tidak hanya menjadi konsumen pasif, melainkan juga aktif memproduksi konten agar tetap eksis. Seperti yang di katakan Henry Jenkins, “..If it doesn’t spread, it’s dead..” Pengguna twitter dengan kriteria yang saya sebutkan di atas, memproduksi konten twitter mereka dengan meretweet tweet-tweet dari akun ramalan bintang dan penyedia fakta. Sayangnya, seringkali mereka tidak memperhatikan kredibilitas dari akun tersebut. Biasanya tidak ditemukan informasi mengenai siapa orang di balik akun tersebut dan setiap tweet tidak mencantumkan sumber. Mereka meretweet begitu saja tanpa memverifikasi terlebih dahulu kebenarannya.
Dari cerita di atas, digital literacy memang perlu agar pengguna twitter tidak menerima informasi begitu saja, tidak menerima informasi mentah-mentah dari akun-akun anonim..

Android vs iPhone..

Tags

, , , , ,

Hello everyone!!
Saya akan kembali memposting tulisan yang masih terkait dengan konvergensi media. Hari ini saya akan berbagi sedikit pengetahuan baru yang saya dapatkan di kelas Konvergensi Media beberapa hari yang lalu, yaitu mengenai gadget. Bagi pengguna gadget khususnya smartphone Android dan iPhone mungkin bisa saling sharing info di sini, terkait dengan bahasan yang akan dipaparkan berikut. Mengingat saya bukan pengguna iPhone hohooo.. Btw, saya masih setia dengan BlackBerry walaupun kini telah menjadi Android User, is it just me who feels BlackBerry more better than Android?? 됐어~

Tidak hanya industri media seperti televisi saja yang memiliki ideologi, ternyata untuk smartphone juga begitu. Kalau untuk televisi, terutama stasiun televisi swasta di Indonesia, perbedaan ideologi sangat kental terlihat di dalam dua stasiun seperti Metro TV milik Surya Paloh dan RCTI milik Hary Tanoe. Ideologi ini biasanya mengacu pada kepentingan pemilik kekuasaan atas media tersebut.

Sama halnya dengan Metro Tv dan RCTI, Android dan iPhone juga memiliki ideologi yang berbeda. Sering kali orang (termasuk saya) mengatakan bahwa ponsel Android dan iPhone berbeda, namun kurang mengetahui pasti perbedaannya berada di mana selain pada aplikasi yang ditawarkan. Apa yang ada di iPhone, terkadang tidak ditemukan di Android, begitu pula sebaliknya. Pada smartphone Android yang Google Based, merupakan ponsel yang open and free platform. Sedangkan iPhone yang notabennya Apple Based, merupakan ponsel dengan sistem walled garden. Oleh karena itu, aplikasi yang ada di Android terkadang tidak ditemukan di iPhone, karena tidak sembarang aplikasi bisa masuk ke iPhone karena adanya kontrol dari Apple itu sendiri. Aplikasi atau konten harus mengantongi izin akses dari Apple sebelum dapat dinikmati oleh user.

walaupun memiliki perbedaan sistem, pada akhirnya Android dan iPhone kini berada di atas BlackBerry. Secanggih apapun platform atau smartphone, dalam hal ini tetap akan kembali lagi pada user. Keputusan berada di tangan pengguna, walaupun industri telah memproduksi produk dengan memanfaatkan teknologi yang semakin canggih.

Copyright Now..

Tags

, , ,

Hello Everyone! This is my 3rd post in this month..

Beberapa hari yang lalu terjadi diskusi yang menarik di kelas Konvergensi Media mengenai Copyright. Di jaman teknologi yang kini semakin canggih, copyright atas suatu kekayaan properti juga mengalami pergeseran. Industri media seolah-olah tidak berdaya dengan tingkah laku audience yang terus mereproduksi properti milik mereka. Namun, proses reproduksi properti tersebut bisa jadi tidak merugikan pihak industri, mengapa? Karena adanya pergeseran copyright tersebut memungkinkan adanya hubungan timbal balik antara industri dan audience. Industri bisa mendapatkan keuntungan dari audience, vice versa.
Dalam konvergensi media, terdapat tiga pilar yang saling berhubungan satu sama lain yaitu: teknologi-industri-audience. Hal ini membuat industri media memberikan celah kepada audience di mana audience bisa mengekspresikan dirinya bukan hanya sebagai pengguna atau passive audience tetapi juga sebagai kontributor atau content creator yang memicu kreativitas dari audience tersebut. Hal ini bisa dikaitkan dengan fandom. Fans kini giat melakukan reproduksi karya dari idolanya seperti remix, tidak hanya fans, tetapi semua pengguna yang memang memiliki ketertarikan dengan suatu karya juga bisa melakukan reproduksi seperti remix. Disamping untuk mendorong kreativitas user, hal ini juga bisa sebagai sarana menjaga ingatan kita terhadap suatu karya. Berapa kalipun karya diremix, audience akan mengingat bentuk asli atau awal dari karya tersebut.

There are quotes quoted from interesting article.

“..need to let fans participate or the value of their content may be compromised. Moving more and more towards participatory culture. Losing copyright control will attract the most dedicated, and active consumers..”

“…Relationship with fans: Allowing them to participate is vital for the survival of a franchise. Need to make sure content reflects fans interests, create a space where they can contribute, and then taking the best work that emerges from that to better the franchise…”

Spread Yours

Tags

, ,

“If it doesn’t spread, it’s dead..”

Quote di atas saya dapatkan dari kelas Konvergensi Media. Di dunia yang konvergen ini, kayanya apa-apa harus disebar, agar tidak mengalami kematian. Contohnya blog ini, sebagai medium atau sarana saya merefleksikan apa yang saya petik dari kelas konvergensi media, kalau tidak disebar, maka akan mati. Jika tidak disebar, maka tidak ada visitors, dan lambat laun akan mati ditinggalkan penulisnya. contoh lain yang disebutkan oleh dosen saya adalah jejaring sosial Koprol yang telah resmi ditutup.
Di zaman yang serba Hyper Access, di mana pengguna media mampu mengakses informasi dari berbagai situs/platform, dari satu situs ke situs lain yang dihubungkan dengan sebuah link, untuk memperkenalkan sesuatu yang baru kepada khalayak sebenarnya tidaKlah sulit. Tidak hanya situs/akun/platform baru yang bisa disebar melalui bantuan internet, melainkan juga diri kita sendiri. Tidak heran sekarang sebagian orang dijuluki sebagai artis Youtube dan menyebarkan akun Youtube yang berisi kenarsisan mereka di berbagai akun jejaring sosial seperti twitter dan facebook sehingga followers dan friends bisa mengakses dan teralihkan ke akun Youtube si artis Youtube.
Contoh yang paling hangat yang akhir-akhir ini sering dibicarakan adalah kasus wawancara Vicky Prasetyo. Pada saat saya menulis postingan ini, video wawancara tersebut masih berada di posisi teratas di halaman utama Youtube. Mungkin pada awalnya orang tidak mengenal siapa Vicky, namun karena beritanya heboh, yang tadinya hanya sebuah video wawancara yang disiarkan di televisi, kini tersebar di berbagai situs, dan kini ia dikenal oleh banyak orang.
Keragaman platform ini sepertinya dimanfaatkan benar oleh Talent Agent, ditambah lagi kini kita berada di mana khalayak terlibat dengan media, khalayak tidak lagi sebagai sekadar yang pasif, namun mereka aktif mencari informasi dan memproduksi konten. Karena ketertarikan saya dengan Korean Pop, kali ini saya kembali mencoba menggunakan contoh yang tidak jauh-jauh dari Korea yaitu salah satu talent agent ternama di Korea, YG Entertainment.

YG Family's Official Facebook

YG Family’s Official Facebook


YG Entertainment beserta artis-artisnya kini memanfaatkan beberapa situs maupun jejaring sosial untuk menyebarkan berbagai informasi, mulai dari konser, video klip atau album yang baru rilis, aktivitas para artisnya, dan lain-lain. Keberadaan situs-situs tersebut memungkinkan khalayak untuk ikut berpartisipasi, baik dengan memberikan komentar maupun menyebarkan kembali informasi tersebut ke platform mereka seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelumnya mengenai prosumer exchange.
Menurut saya, strategi ini memang sudah seharusnya dijalankan di era kemajuan media baru seperti sekarang. Bisa dibayangkan apabila YG Entertainment hanya memanfaatkan media konvensional seperti televisi maupun radio yang hanya dapat dijangkau di Korea, atau pay tv yang hanya dapat diakses oleh pelanggan. Orang lain di penjuru negara lainnya akan mengalami kesulitan mendapatkan informasi mengenai aktivitas mereka. Kalaupun seandainya YG Entertainment hanya memanfaatkan media konvensional tersebut, maka kemungkinan kita yang berada di Indonesia masih bisa mendapatkan informasi mengenai mereka dari warga Korea yang aktif terlibat dengan media atau menjadi prosumer, yang mengolah informasi tersebut di akun jejaring sosial atau Youtube mereka misalnya, karena seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa khalayak kini cenderung aktif. Karena khalayak kini cenderung menjadi prosumer, mereka tidak hanya mengonsumsi melainkan juga memproduksi konten, informasi yang diolah apalagi jika informasi tersebut menarik, maka akan mudah disebarkan melalui prosumer-prosumer lainnya.

Prosumer Exchange

Tags

, ,

beberapa hari yang lalu, saya untuk pertama kalinya mengikuti kelas Konvergensi Media. Konvergensi tersebut ternyata tidak hanya sebatas di mana media konvensional dan media baru saling melengkapi. Dari apa yang saya dapat dari kuliah pertama tersebut, konvergensi juga meliputi audience yang semakin aktif terhadap penggunaan media. Dari sini muncul istilah Produsage yang menurut Axel Bruns (2007) adalah di mana creation dan consumption saling berkombinasi ( http://theory.cribchronicles.com/2012/07/03/what-produsage-is-and-why-it-matters/ ).
Bahasa mudahnya, audience kini tidak hanya mengkonsumsi melainkan juga dapat menciptakan atau memproduksi konten media. Audience aktif terlibat dengan media.
Menurut artikel menarik yang saya baca di http://theory.cribchronicles.com/2012/07/03/what-produsage-is-and-why-it-matters/ , selama audience terkoneksi via beberapa platform, Prosumer Exchange bisa saja terjadi. Prosumer sama halnya dengan Produsage, yaitu di mana audience bisa merangkap menjadi produsen sekaligus konsumen media (Ritzer & Jurgenson, 2012). Prosumer Exchange di sini maksudnya adalah ketika saya dan kamu sama-sama menjadi prosumer/produsage. Contohnya seperti yang pernah saya tuliskan di twitter dengan tagar #MedConv13, variety show Korea Running Man, saya adalah hardcore fan of Running Man ini, ya bisa dibilang begitu, dan saya selalu menanti-nantikan tv show Korea yang satu ini. Running Man tayang setiap hari Minggu jam 6.10 PM waktu Korea di channel SBS dan bisa diakses/Live Streaming di SBS on Demand. Pada besok harinya, kita sudah dapat menikmati bahkan mendownload Running Man tersebut di berbagai situs dan tentunya video tersebut telah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Admin situs tersebut juga memberitahukan kepada audience melalui jejaring sosial twitter bahwa Running Man dengan English Subtitle telah diupload. Dengan kata lain, si Admin ini telah menjadi produsage, di mana ia menonton tv Show tersebut, kemudian menerjemahkannya, lalu mengupload konten tersebut ke situs yang ia kelola. Prosumer Exchange seperti yang disebutkan sebelumnya, bisa saja terjadi ketika saya sebagai audience mendownload video tersebut dan mempost link video/link situs tersebut di twitter pribadi saya. Dengan demikian, saya di sini juga dapat dikatakan sebagai prosumer/produsage karena di satu sisi saya menonton video tersebut dan di sisi lainnya saya adalah pembuat konten dari akun jejaring sosial saya dengan menshare link video yang saya tonton tersebut. Dan seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa Prosumer Exchange ini terjadi selama para Prosumer tersebut memiliki media atau terkoneksi dengan berbagai platform. Contoh di atas menggambarkan bahwa saya dan pengelola situs tersebut sama-sama dikatakan produsage/prosumer, saya dan admin saling terkoneksi dengan media yang dimiliki. Prosumer Exchange juga memberikan keuntungan, di mana saya dapat mendownload dan menikmati tv show korea tersebut, sedangkan admin akan mendapatkan keuntungan karena video yang diupload banyak didownload oleh visitor yang mengetahui link situsnya dari apa yang saya post di twitter.. Hohoo